Senin, 05 November 2018

Santai kayak di pantai

Saya suka bingung dan kadang jadi senyam senyum sendiri kalau ada yang tanya : "Gimana di tempat kerja baru? Enak? Lebih enak mana daripada yang sebelumnya?"

Berangkat dari pertanyaan itu, saya jadi tahu salah satu sifat dasar manusia : Suka Membandingkan

Suka membandingkan gaji dia dan gaji dia.
Suka membandingkan kendaraan dia dan kendaraan dia.
Merk make up, brand hp, makanan, hidup, kerjaan pasangan, semua aja dibandingin.

Lalu setelah kamu bandingkan, lantas?

Apalah inti yang kamu dapat setelah tahu kalau kendaraanmu ke kantor harganya lebih mahal dari pada temanmu?
Waktu kamu tahu kalau kerjaan barumu jauh lebih enak dari kerjaan lamamu?

Toh pada satu titik, kamu akan bertemu satu kesamaan yang mutlak yang tidak bisa kamu tolerir : Masing-masing hal punya positive dan negative. Udah gitu doang.

Kerjaan lamamu lebih berat? Yakin? Coba deh pikir, -kalau mau mikir sih- pasti ada hal positive yang kamu dapat dari tempat kerja lama.
Enak sih memang di tempat kerja baru. Tapi yakin bakal happy selamanya?

Sudahlah. Berhenti membandingkan. Apa yang kamu kenakan, apa yang kamu pakai untuk berkendara, apa yang jadi makananmu, apa yang jadi sumber mata pencaharianmu, berbahagialah dengan itu sekarang. Tidak usah juga lantas jadi jumawa karena pada titik ini kamu sedang merasa paling bahagianya. Ada kok waktu sulitnya.

Membandingkan itu hanya akan memberikan 2 label. Baik dan tidak.
Sebagus apapun kategori yang kamu bandingkan, realitanya, itu hanya memberikan pemahaman baik dan tidak baik. Sadarkah kamu akan hal itu?

Jadi, ngga usah juga tanya dan banding-bandingkan hidup lama dan hidup baru seseorang ya.
Karena jawabannya saat itu juga engga mutlak jawaban selamanya kok.
Kalau alasanmu cuma buat basa basi, mmmm, pesan saya satu sih.

Besok besok kalau mau basa basi, yang agak berbobot dikit ya, biar ngga jadi basi beneran.

Jumat, 19 Oktober 2018

Standard

Caraku menikmati hidup -mungkin- tak sama dengan cara yang kau miliki.
Hal yang membuatku tertawa -bisa jadi- berbeda dengan yang kau rasakan.

Standard kita beda. Sedari lahir, keluarga kita pun membesarkan dengan cara yang berbeda.
Makanan kita bisa jadi berbeda. Tempat kita berteduh yang semua orang bilang "rumah", bisa jadi berbeda bentuk dan isi. Kebiasaan hidup kita tidak sama.

Lalu atas dasar apa kau menyamakan standard bahagiaku dan bahagiamu?

Aku bahagia dengan gaji segini, lalu mengapa kau yang panas dingin mendengar nominal itu?
Aku bahagia dengan hobi sederhana ini, lalu mengapa kau yang heboh mencarikanku hobi baru?
Aku bahagia dengan agama ini, lalu mengapa kau yang menerakakanku?
Aku bahagia dengan rumah kecil ini, lalu mengapa kau yang merasa sesak?

Hiduplah dengan standardmu.
Bahagialah dengan caramu.

Bahwa kau harus tahu, jangan pernah menyamakan dengan standard dan bahagiamu.
Sesederhana itu saja sebenarnya. Jangan kau buat rumit.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Aku Mencintaimu Dalam Diamku

Aku mencintaimu dalam diamku.
Dalam lakuku yang setiap detik memeriksa ponselku, barangkali ada pesan dengan namamu sebagai pengirimnya.
Tapi sayang.
Lagi-lagi sms dari provider telepon itu membuatku geram.

Aku mencintaimu dalam angkuhku.
Dalam keengganan menekan tombol hijau setelah nomormu kuselipkan.
Tapi sayang.
Jariku memilih menekan tombol hapus, yang memang sengaja dilama-lamakan. Diiringi tarikan kemudian desahan nafas panjang.

Aku mencintaimu dalam bingungku.
Dalam keputus-asaanku yang melihat centang biru dua sudah mengerling, namun hanya diam dan bisu sampai disana. Membuatku ingin masuk mendaftarkan diri dalam daftar pasien kejiwaan, yang rasa-rasanya bisa kulakukan karena gilaku sudah tidak tahu ada di tahap mana.

Aku mencintaimu dalam hilangku.
Dalam pertanyaanku yang heran melihat aku yang bukan aku. Melihat tubuhku namun bukan diriku. Mungkin jiwaku sudah hilang tak sengaja kau ambil lalu kau buang. Entah akupun tak tahu.

Flu 2 Minggu dan Pikiran Buntu

Sering, realita tidak berkawan dengan doa.

Tidak serta merta doamu kurang lho ya. Berhentilah berpikiran begitu.
Tidak ada doa yang cukup kurang lebih.
Jika semua memang meluap dari hati, Tuhan langsung yang akan mendengarnya, tak perlu juga kau umbar di media sosialmu itu. Lihat saja jawabannya.

Mauku, doaku, diumur 23 tahun aku sudah menikah.
Nyatanya, 27 tahun jadi usia yang digariskan untukku memulai rumah tangga, memulai hal yang kusebut roller coaster tergila.

Mauku, doaku, mobil adalah kendaraan yang menemani perjalananku melewati hari-hari.
Nyatanya, sepeda motor saja yang menempati posisi itu, menemani perjalanan kami, dan terkadang jadi saksi bisu peristiwa penting dalam kisah si roller coaster.

Mauku, doaku, kerjaan dengan gaji minimal dua digit sudah seliweran di rekeningku setiap bulan.
Nyatanya, tidak pernah lebih dari 6 juta angka yang masuk kesana. Mau tertawa tapi kok sedih. Tapi toh aku bisa hidup dengan tertawa lepas dan tidak sulit untuk memberi sampai saat ini.

Mauku, doaku, kujalani hidup dengan lelaki mapan yang membuatku bisa menikmati hidup dengan tidak perlu cek rekening tiap mau membeli sesuatu, masih cukup atau tidak untuk hidup di bulan depan.
Nyatanya, kuhidup dengan lelaki yang membuatku harus mencari perkerjaan sampingan untuk menunjang biaya harianku yang untuk cuci muka saja, sebenarnya kuhindari membeli sekelas biore atau ponds. Minimal cetaphil. Ajaibnya, dia juga lelaki yang rela angkat tangan dan kakinya untuk membersihkan rumah yang seringnya, aku yang hancurkan.

Memang sering realita tidak berkawan dengan doa.
Doamu untuk kepentingan dan kesenanganmu.
Tuhan mungkin tidak berkenan yang seperti itu.
Dia ajar kamu untuk menghargai setiap detail terkecil yang Dia beri.
Dia ajar kamu untuk menangkap makna dari pemberianNya yang menurutmu mencelakakanmu, namun berlian dibalik semua itu.

Hiduplah dengan cukup.
Hiduplah dengan bersyukur.
Hiduplah dengan hati ikhlas.

Biarlah realita tak berkawan dengan doa, namun bahagia yang kau dapat disana.

Horex Hotel, Sentani
06 Oktober 2018