Senin, 25 Januari 2016

Women

Wanita.

Menjadi indah itu tidak segampang memulas bedak di atas wajahmu.
Menjadi kuat itu tidak seringan menenteng kantung belanjaan di tangan kanan kirimu.
Menjadi cerdas itu tidak sesebentar mengupdate keluhan di jejaring sosialmu.
Dan menjadi sosok yang dibutuhkan suami, anak, dan lingkunganmu prosesnya tidak juga semenyenangkan memadu-padankan pakaian barumu.

Kamu bisa menjadi sangat diinginkan, atau dihindari.
Kamu bisa menjadi sangat dikagumi, atau dicaci.
Sadar atau tidak, lidahmu jualah penentu teman dalam hidupmu.

Wanita.

Bahwa sebenarnya, engkau lebih indah dibanding apapun di dunia ini.
Bahwa sebenarnya, engkau kuat melebihi yang pernah kau bayangkan.
Bahwa sebenarnya, engkau lebih pintar dari yang pernah kau pikirkan.
Dan bahwa sebenarnya, dunia membutuhkan sosok sepertimu, pribadi seunik dirimu, dan hati selembut dan sekuat yang kau miliki...

Tersenyumlah dalam setiap luka yang kau hadapi.
Berjalanlah dalam setiap duri yang kau lewati.
Kau akan tahu seberapa kuatnya engkau, pada akhirnya.

Papua, 7 Juli 2014

-another- random thing

Insomnia. Lagi. Setelah sekian lama tidak.

Keinginan menulis mendadak muncul. Lagi. Entah dari mana.
Banyak hal terjadi belakangan ini.

Pertemuan, perpisahan. Klise. Tapi cukup membekas.
Keinginan, penyesalan.
Mata begitu ingin terpejam. Tapi otak masih menolak. Apa kuasa mata, jika pusatnya masih menahan.
Begitu banyak yang berseliweran dalam pikiran.
Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang masa depan.

Kadang hidup tidak semenyenangkan yang dipertahankan, namun tidak juga semengenaskan yang diteriakkan.
Kadang cinta tidak semanis yang diperjuangkan, namun tidak juga seberacun yang diapatiskan.

Makan untuk hidup? Atau hidup untuk makan?
Intinya makan itu penting.

Another random thought. Another absurd mind.

Begitulah manusia.

Keinginan besar terkadang suka berbanding terbalik dengan fokus yang diberikan. Hasilnya? Simpulkan saja sendiri. Itupun jika kau masih bisa fokus.

Makan dulu sana.



Semarang, 24 Desember 2015